Sajak sembarang


(1)

Aku pikir itu sungguhan,ternyata hanya tipuan. 

Aku pikur itu cinta, ternyata hanya rayuan. 

Aku pikir itu rindu, ternyata hanya sebatas ada perlu. 

(2)

Kapan waktu ia ingin bercerita, ia akan bercerita tanpa perlu ditanya.

Kapan waktu ia ditanya, lalu diam tak menjawab, pasti ia tengah sibuk dengan gawainya. 

(3)

Ia sadar jika ia meragu, karena itu ia suka sekali menguji 

Ia sadar jika ia belum mampu, oleh sebab itu kadang tiba-tiba ia pergi. 

perasaan


Akhir-akhir ini aku dibuat kualahan dengan apa yang kurasakan. Aku seperti berada di dalam lubang sempit yang membuatku tak mampu bergerak. Aku merenung, mencoba menerka apa yang sejatinya hati ini inginkan. Seketika aku terjebak. Terjebak di antara banyaknya rasa. Rindu, kesal, sedih, bahagia, terabaikan, mungkin juga cinta. Aku sungguh tidak tahu apa yang kuharapkan. Aku hanya merasa. Aku merasa cemburu tatkala ia dengan sengaja bermaksud membuatku cemburu. Aku bahagia ketika ia tiba2 menghubungiku. Aku sedih ketika ia tiba2 menghilang pergi. Aku kesal ketika ia mengingkari janji. Aku hanya melampiaskan rasaku padanya. Padahal siapalah dia. Dia hanya lelaki biasa yang tentunya tak peduli apa yang kurasa. 

Aku sungguh tak mengharapkan apa2 darinya. Aku sungguh merasa bersalah membuat ia sebagai objek dari segala rasaku yang tertumpah. Entahlah apa yang terjadi padaku? Mungkinkah aku benar2 berharap dirinya? Ah tidak. Aku sudah cukup bahagia menjadi temannya. Sungguh aku sudah cukup bergembira. Tapi mendengar ia berusaha mendekati wanita lain, hatiku sakit. Padahal apalah dia itu bagiku, dan apalah aku ini baginya. 

Oh tuhan….aku sungguh letih dengan campur aduk perasaan ini. Letih sekali. Lewat rasa yang terjadi padaku, aku mencoba untuk menangis, tapi nalarku dengan kasarnya menolak. Nalarku menganggap bahwa ini adalah sekumpulan hal yang amat konyol. Hati dan nalarku sungguh berkebalikan. Hati ingin menangis, nalarku tak sudi. Yang mana yang harus kuikuti? Hatiku ataukah nalarku? 

Aku sungguh ingin menangis tapi nalarku tak mampu membuat alasan kenapa aku harus menangis. 

Belajar


​Kamu belajar (membaca) krn apa? Krn ada sesuatu dlm dirimu yg perlu segera kamu tahu Atau hanya ingin mengadu nalar dgn lawanmu krn kamu perlu panggung utk menunjukkan eksistensimu? Miris sekali jika begitu.  Cihh…rendah sekali kau memaknai kehidupan yg tuhan berikan padamu. 

#akumengoreksidiriku

Berenang bareng 


Pagi ini aku berenang bersama mereka yang sering kuanggap berlebihan.iya mereka, para wanita bercadar. Awalnya aku agak canggung, khawatir, tapi lebih ke penasaran. Namun akhirnya, ya….biasa saja. Mereka sama seperti orang – orang pada umumnya. Berbincang masalah keluarga sesambil berair di kolam, Bersapa dengan orang yang baru dikenal, Ya…intinya sama saja lah seperti perkumpulan ibu ibu pada umumnya. Apa lagi ketika mereka melepas hijabnya, tak ada beda lah sama aku. Hehe…..Dan hal ini lebih membuatku yakin, bahwa pakaian memang fungsinya sekedar untuk menutupi fisik tanpa ada embel-embel nilai keimanan. Jika ada yang berkata bahwa seharusnya orang yang berhijab itu semestinya lebih menjaga tutur dan perilakunya, aku kira setiap orang memang sepatutnya menjaga attitudnya bukan hanya mereka yang berpenampilan ke arab2an. Karena kita tidak bisa menilai moral seseorang sekedar dari apa yang iya kenakan.

Tambahan lagi, jika pun ada mba mba yang hendak memulai berhijab, ya monggo.tak usah merasa terbeban dengan perkataan jika nanti setelah berhijab harus melaksanakn ini dan meninggalkan itu. Toh sebelum mba berhijab, aturan untuk senantiasa berlaku baik, hakikatnya sudah melekat pada diri.

Namun jika ada yang menganggap berhijab adalah awal dari pertobatan, ya silahkan. Tiap orang punya target tobatnya masing masing. 

Ah sayangnya tadi tak sempat berkenalan lebih jauh.

Kamar


Seharian ini aku tak keluar dari kamar, terkecuali perkara menunaikan hajat. Aku terbaring di atas kasur, sibuk membuka kembali memori sepanjang 23 tahun yang berlalu. Dan aku tersipu, esok umurku 24 dan umurmu 25. Hanya satu hari dalam setahun, aku yakin akan dirimu, yakin jika kau tanpa sengaja mengingatku. 

Selamat ulang tahun kamu dan aku.

Desa dan Kota, Antara Esensi dan Formalitas


            di saat wara desa masih mempertahankan semangat kebersamaan dan toleransi beragama, di kota, orang sudah sibuk mengklaim diri yng paling benar, hingga akhirnya menghasilkan kesenjangan.

Pada minggu kedua ramadan kemarin, saya beserta kedua teman saya mengajukan diri untuk menjadi delegasi dalam program santri mengabdi di pedukuhan Bolang tepatnya di daerah gunung kidul. Pogram ini merupakan pogram yang diadakan oleh lembaga ZIS Nur Hidayah dan santri tahfidz Nur Hidayah. Usut punya usut program santri mengabdi ini sebenarnya tidak disetujui oleh para petinggi lembaga entah karena alasan apa. tapi karena ada salah satu pengurus zis sekaligus pegurus rumah tafidz yang mengawali program ini bersikukuh untuk tetap menjalankan dengan meyakini bahwa program ini nantinya akan amat bermanfaat bagi santri dan bagi umat, akhirnya program pun diadakan. Dengan uang yang entah beliau dapat dari mana, yang pasti bukan dari ZIS Nur Hidayah.

            Pertamakali ditawari oleh ketua asrama untuk join program santri mengabdi, saya langsung bilang ok. Jujur saja saya ikut program ini karena saya agak merasa jenuh dengan kondisi di kota, butuh suasana bersahaja seperti di desa. Program ini juga diawali oleh semangat salah satu warga dusun bolang yang ingin membangun rumah tahfiz di sana. Tanpa berbekal pelatihan dan pengetahuan apa-apa kami bertiga yaitu saya, mba ratna dan pebri diminta untuk sekreatif mungkin merancang proker yang akan dilaksanakan selama seminggu di sana, sasaran program ini meliputi anak-anak, remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak selama seminggu. Dengan informasi seadanya yang menurut pengurus yang bertangung jawab yaitu mas nur, bahwa masyarakat di Dusun Bolang amat minim terhadapat pengetahuan agama serta gencarnya kristenisasi plus ya….you know lah tanggapan umumnya orang kota pada kehidupan orang desa. Saya sih tidak terlalu serius menanggapi tanggapan mas nur tentang dusun yang akan kami tempati nanti, toh nanti pada kenyataannya tidak separah yang dijelaskan oleh beliau. Santai, toh saya kesana niatnya hendak berlibur bukan bertempur.

            Infomasi tentang keberangkatan kami lumayan dadakan, semalam sebelum keberangkatan, mas nur baru memberitahu kami. jadi bisa dibayangkan betapa grasak grusuknya program ini. Ada beberapa santri lain juga sebenarnya yang ingin join ke dusun Bolang. Tapi berhubung mereka masih banyak urusan di kampus, jadi tidak berkesempatan untuk ikut, tapi pula berpesan kepada kami untuk “jaga iman kalian ya”. haahaa…. pengen ketawa ketika mendengarnya, beberapa mungkin masih beranggapan jika bolang itu seperti tempat kami mengadu iman, memperjuangkan umat, dan bla bla bla. Tiba di dusun Bolang kami langsung solat asar di TPA dan bermaksud melihat kondisi di sana. Lalu dilanjutkan ke rumah yang akan kami tempati. Di sana pun kami disambut oleh perangkat desa, takmir dan bude-bude yang tengah sibuk menyediakan takjilan. Basa basi sebentar dan akhirnya mas nur pun pulang. Malamnya kami bertiga langsung merancang program ditemani oleh dua bude yang baik hati, bude ruk dan bude wasti. Dapat informasi dari bude jika “ibu-ibu di Bolang pengen ngajinya rame-rame nggak mau sendiri, soalnya kalau baca iqro sendiri malu nanti kalau salah, terus ada juga yang minta diajarin bacaan sholat saja nggak usah iqra karena udah nggak mampu ngeliat” begitu kira-kira redaksinya. Di antara program tersbut adalah ngajar TPA, pengajian ibu-ibu, khataman qur’an, dan baksos. Hari pertama operasi, sorenya kami standby di TPA, dan seharian itu pun belum ada remaja ataupun ibu-ibu yang bertandang ke rumah untuk belajar. Tapi pak takmir tidak henti menginfokan kepada masyarkat setiap habis sholat tarawih dan shubuh bahwa dikampungnya ada beberapa santri pengabdian yang siap melayani warga jika ada yang hendak belajar mengaji ataupun soal yang lain. Demi untuk menyemarakkan calon rumah tahfiz yang kami tempati pun, di sela mengajar TPA kami menginfokan kepada anak-ank bawa kakak-kakak bersedia membantu belajar adik adik TPA jika ada yang kesulitan dalam belajar (songong banget ya).

            Begitu kira-kira sekilas gambaran perjalanan kami dalam program santri pengabdian. Nah kali ini saya akan berceria tentang suasana batiniah saya, pengalaman interaksi saya, serta sedikit pengetauan saya tentang masyarakat desa.

            Jika islam itu dibangun atas dasar konstruksi lahiriah dan batiniah, maka sungguh saya melihat islam ada pada msyarakat dusun Bolang. Jika dilihat dari segi individu masyarakatnya, saya selau bertemu dengan orang-orang yang jauh dari sikap sombong, salah satu contoh sikap kerendah hatiannya pak takmir, beliau selalu bilang jika beliau tidak bisa apa-apa, selalu bilang “pengetauan agama saya sediki ustad” (pas ngobrol bareng mas nur). tapi disamping itu sebagian masyarakat meyakini jika tidak ada pak takmir, masyarakat dusun bolang belum mampu berpikir maju. Ah pak, jika yang bapak maksud adalah pengetahuan ritual keagamman mungkin kami jagonya, tapi jika substansi sosial agama sunguh kami yang harus belajar banyak dari bapak. Itupun Jika islam oleh sebgian orang dipahami sebagai kata kerja bukan kata benda. Bukankah menurut beberapa survei, jika Bali lah yang merupakan kota yang paling menerapkan esensi ajaran Islam, padahal masyaraktnya memeluk agama non islam.   Belum lagi ada bude wasti, ya ampun… saya amat berterima kasih dengan beliau karena beliau selalu menemani kami dari awal hingga akhir program ketika kami kerap menemui kesulitan, pula menbangunkan ketika sahur. saya memperhatikan betul bagaimana ketika selepas shubuh bude wasti sudah sibuk di dapur, tak pernah saya liat bude wasti istirahat siang. Benar benar tergambar padanya wanita pekerja keras.

            Walupun faktanya ketika di sana, batin saya agak sedikit terguncang. Semua program yang kami rancang, berjalan dengan lancar. Ketika hari kedua, siang hari para ibu sudah berkumpul di rumah tahfiz hendak belajar mengaji, selepas tarawih para remaja mulai berdatangan ingin pula belajar mengaji, ketika subuh pun begitu, sorenya meladeni anak-anak TPA. Jujur saya sempat merasa tidak tenang, saya agak tidak peduli dengan ruh saya yang saya lupa jika ia pun mustilah diberi asupan. Sholat malam ketetran, duha pun lewat karena bangun kesiangan gegara malamnya bergadang, tilawah ditinggalkan. sebenarnya itu tak bisa dijadikan hujjah, dasar sayanya saja yang malas-malasan. Jadi ketika saya begitu banyak meladeni orang hingga lupa meladeni diri sendiri, jiwa saya terasa angkuh, dan itu amat menggelisakan. Hingga tiba ketika saya hendak menangis karena saya dalam keadaan amat bingung menghadapi begitu padatnya program, saya takut jika program yang dijalankan hanya sebatas program, puncaknya ketika kami tengah sibuk mempersiapkan acara khataman qur’an. Saya merasa program ini terlalu dipaksakan, melihat banyak warga yang belum mampu membaca qur’an dengan lancar. Saya merasa ini amat memberatkan. Khawatir nanti tidak ada lagi yang belajar. Tapi untungnya semua itu tidak seburuk yang dibayangkan. Khataman tetap berjalan lancar dan kami bersama warga pun masih terus belajar qur’an. Dari sini saya belajar, untuk terjun dalam masyarkat, kekuatan ruh amatlah dibutuhkan. Jika tidak siap, salah-salah malah diri sendiri yang nantinya bukan mengajarkan malah menjerumuskan orang.

            Saya melihat pada diri warga Bolang semangat dalam menuntut pegetahuan. Bukankah ini yang menjadi awal perintah dari Tuhan untuk terus belajar, “iqra (bacalah)”. Memang diawal pengajian, para santri dewasa (ibu-ibu) agak malu untuk kembali mengulang bacaan iqra’ mereka. Begitu pun dengan para remaja. Kami sempat kaget, keika tengah tilawah di masjid selepas tarawih, ada salah satu pemuda yang menyodorkan iqra’ hendak mengaji, dan pada akhirnya pemuda-pemuda yang lain pun ikut pula belajar mengaji. Ah, ternyata hanya perlu selangkah keberanian untuk memperoleh pengetahuan. Saya amat merasakan ada ruh setiap kali kami (santri mengandi dan warga) berinteraksi dalam proses belajar. Hingga kita tiba saatnya program ini selesai, di tiap wajah terpancar kesedihan karena harus merelakan proses belajar terhenti. Ketika ada seorang teman yang berkata jika kami kembali akan mennemui dunia nyata, saya beranggapan bawa singgah di bolang sejatinya pun merupakan dunia nyata karena ia pun bagian dari proses belajar. Bukankah sejatinya hidup itu adalah proses pembelajaran. Selama kita menyadari bahwa kita ini selalu dalam proses belajar, kenyataan akan dunia takkan terabaikan.

            Saya selalu ingin hendak berkata kepada mereka bahwa tak perlu berekspetasi lebih dengan orang-orang yang katanya dari kota, di saat wara desa masih mempertahankan semangat kebersamaan dan toleransi beragama, di kota, orang sudah sibuk mengklaim diri yng paling benar, hingga akhirnya menghasilkan kesenjangan. Desa Bolang sudah berislam, toh islam bukan hanya soal praktek ritual keagamaan, tapi lebih dari itu pengamalan kehidupan yang bersahaja. Saya amat bergembira bisa mengenal Bolang, dusun yang mengajarkan saya pentingnya kehidupan yang berseimbang, antara diri dan kehidupan bersosial. Antara hablum minallah dan hablum minannass.

Sholat, Rukuk, dan Hewan


Menyenangkan jika selama perjalanan menyetir bisa diselingi dengan suatu obrolan atau pun sekedar nyanyian tak jelas. Apa lagi jika ditambah dengan pemandangan menawan setiap kali melewati jalan. Sebenarnya bukan bagaimana perjalanannya yang akan saya bahas di sini, tapi obrolan yang berlangsung di dalamnya. Karena akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengusik pikiran saya, sesuatu yang amat mendasar, “sholat”. Saya bertanya-tanya kenapa dalam sholat musti ada gerakan rukuk?, pertama saya memikirkannya, ini sesuatu yang amat menggelikan. Seseorang dalam pertemuannya dengan Tuhan, mustilah melewati gerakan nungging sejenak. Saya menganggapnya sebagai sebuah kelucun yang mengherankan. Karena terus-terusan terngiang diingatan eh dilalah pas nyetir bareng teman yang saya anggap paham dengan kegelisahan pikiran, langsung saja saya todong dengan pertanyaan serupa, “kenapa di sholat musti ada rukuk? Sebenarnya rukuk itu menyimbolkan apa?”.

Menurut logika beliau, rukuk merupakan simbolisme dari gerakan ketundukan, kerendah dirian, dan pula sebagai bentuk persiapan dari gerakan sholat setelahnya yaitu sujud. Tapi itu belum menghilangkan kegelisahan di pikiran saya, karena menurut saya seutuhnya solat itu bermakna ketundukan, kepasrahan, ketiadaan. Saya menganggap jawaban tersbut masih terlalu umum. Saya butuh yang lebih spesifik. Khusus. Mengena. Itu rukuk simbolisme dari apa.

Sebenarnya sebelumnya saya sudah mengantongi jawaban sendiri. Nah jadi begini menurut otak-atik otak saya. Saya awali pikiran saya ini dengan membandingkan kedua makhluk Tuhan yaitu manusia dan binatang. Apa yang menjadikan manusia berbeda dari binatang. Saya sering mendengar kalimat jika manusia merupakan hewan yang berbicara. Keduanya smaa-sama makhluk hidup, tapi salah satunya berkemampuan mengolah logika berbahasa. Tapi disamping ia mampu mengolah logika berbahasa lewat akal pikirannya, secara fisik antara manusia dan binatang juga memiliki perbedaan yang jelas. Hanya manusia yang berdiri sempurna mampu menyanggahh tubuhnya. Sedangkan pada binatang, tidak ada yang mampu berdiri sempurna. Biasanya beberapa binatang selain yang berjenis melata, seperti simpanse, kera, ataupun yang serupa tak bisa menegakkan dirinya setegap manusia.

Nah dalam pada itu, balik lagi ke rukuk. Rukuk merupakan simbolisme dari cara tegak binatang (menurut saya loh ya). Dalam rukuk, manusia diminta sadar akan posisinya ketika berhadapan dengan Tuhan. Hanya sebagai makhluk, posisinya disejajarkan dengan binatang yang mungkin sering dihina dinakannya (sejajar maksudnya menunjuk ke segi fisiknya). Dalam rukuk ada bacaan subhana robbiyal ‘adziimi wa bihamd , ada kata subana yang berati manusia disuruh mensucikan. Kenapa ada pernyataan mensucikan, pastilah karena sebulmnya ada sesuatu yang kotor. Apa itu? Ya itu, manusia. Manusia yang kotor ini dalam sholatnya itu disuruh mensucikan dirinya dengan nama Tuhannya yang maha agung. Disuruh mensucikan dengan kembali menyadarakan driinya bahwa sesuatu yang dapat diagung-agungkan itu bukan amal ibadah ataupun jabatan keduniawian, akan tetapi hanya Dia, Allah yang mencipta.

Kekotoran manusia ini ditegaskan lagi dengan gerakan setelah bangkit dari rukuk, gerakan yang amat radikal. Sujud. Dalam sujud ada kalimat subhana robbiyal ‘ala wa bihamd. Di sini puncak pengakuan kehinaan manusia, dalam posisinya yang amat rendh menyatu dengan tanah sebagai bahan yang menjadikannya ada, manusia kembali harus mengakui bahwa dirinya kotor nan rendah dengan menyadari bawa hanya Allah yang maha suci dan tinggi. Manusia benar-benar tak bisa memisahkan dirinya dari alam, ia terbentuk dari alam, dan sejatinya dengan alamlah ia belajar.