Berenang bareng 


Pagi ini aku berenang bersama mereka yang sering kuanggap berlebihan.iya mereka, para wanita bercadar. Awalnya aku agak canggung, khawatir, tapi lebih ke penasaran. Namun akhirnya, ya….biasa saja. Mereka sama seperti orang – orang pada umumnya. Berbincang masalah keluarga sesambil berair di kolam, Bersapa dengan orang yang baru dikenal, Ya…intinya sama saja lah seperti perkumpulan ibu ibu umumnya. Apa lagi ketika mereka melepas hijabnya, tak ada beda lah sama aku. Hehe…..Dan hal ini lebih membuatku yakin, bahwa pakaian memang fungsinya untuk menutupi fisik. Jika ada yang berkata bahwa seharusnya orang yang berhijab itu semestinya lebih menjaga tutur dan perilakunya, aku kira setiap orang memang sepatutnya menjaga attitudnya bukan hanya mereka yang berpenampilan ke arab2an. Karena kita tidak bisa menilai moral seseorang sekedar dari apa yang iya kenakan.

Tambahan lagi, jika pun ada mba mba yang hendak memulai berhijab, ya monggo.tak usah merasa terbeban dengan perkataan jika nanti setelah berhijab harus melaksanakn ini dan meninggalkan itu. Toh sebelum mba berhijab, aturan untuk senantiasa berlaku baik, hakikatnya sudah melekat pada diri manusia. 

Namun jika ada yang menganggap berhijab adalah awal dari pertobatan, ya silahkan. Tiap orang punya target tobatnya masing masing. 

Ah sayangnya tadi tak sempat berkenalan lebih jauh.

Kamar


Seharian ini aku tak keluar dari kamar, terkecuali perkara menunaikan hajat. Aku terbaring di atas kasur, sibuk membuka kembali memori sepanjang 23 tahun yang berlalu. Dan aku tersipu, esok umurku 24 dan umurmu 25. Hanya satu hari dalam setahun, aku yakin akan dirimu, yakin jika kau tanpa sengaja mengingatku. 

Selamat ulang tahun kamu dan aku.

Desa dan Kota, Antara Esensi dan Formalitas


            di saat wara desa masih mempertahankan semangat kebersamaan dan toleransi beragama, di kota, orang sudah sibuk mengklaim diri yng paling benar, hingga akhirnya menghasilkan kesenjangan.

Pada minggu kedua ramadan kemarin, saya beserta kedua teman saya mengajukan diri untuk menjadi delegasi dalam program santri mengabdi di pedukuhan Bolang tepatnya di daerah gunung kidul. Pogram ini merupakan pogram yang diadakan oleh lembaga ZIS Nur Hidayah dan santri tahfidz Nur Hidayah. Usut punya usut program santri mengabdi ini sebenarnya tidak disetujui oleh para petinggi lembaga entah karena alasan apa. tapi karena ada salah satu pengurus zis sekaligus pegurus rumah tafidz yang mengawali program ini bersikukuh untuk tetap menjalankan dengan meyakini bahwa program ini nantinya akan amat bermanfaat bagi santri dan bagi umat, akhirnya program pun diadakan. Dengan uang yang entah beliau dapat dari mana, yang pasti bukan dari ZIS Nur Hidayah.

            Pertamakali ditawari oleh ketua asrama untuk join program santri mengabdi, saya langsung bilang ok. Jujur saja saya ikut program ini karena saya agak merasa jenuh dengan kondisi di kota, butuh suasana bersahaja seperti di desa. Program ini juga diawali oleh semangat salah satu warga dusun bolang yang ingin membangun rumah tahfiz di sana. Tanpa berbekal pelatihan dan pengetahuan apa-apa kami bertiga yaitu saya, mba ratna dan pebri diminta untuk sekreatif mungkin merancang proker yang akan dilaksanakan selama seminggu di sana, sasaran program ini meliputi anak-anak, remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak selama seminggu. Dengan informasi seadanya yang menurut pengurus yang bertangung jawab yaitu mas nur, bahwa masyarakat di Dusun Bolang amat minim terhadapat pengetahuan agama serta gencarnya kristenisasi plus ya….you know lah tanggapan umumnya orang kota pada kehidupan orang desa. Saya sih tidak terlalu serius menanggapi tanggapan mas nur tentang dusun yang akan kami tempati nanti, toh nanti pada kenyataannya tidak separah yang dijelaskan oleh beliau. Santai, toh saya kesana niatnya hendak berlibur bukan bertempur.

            Infomasi tentang keberangkatan kami lumayan dadakan, semalam sebelum keberangkatan, mas nur baru memberitahu kami. jadi bisa dibayangkan betapa grasak grusuknya program ini. Ada beberapa santri lain juga sebenarnya yang ingin join ke dusun Bolang. Tapi berhubung mereka masih banyak urusan di kampus, jadi tidak berkesempatan untuk ikut, tapi pula berpesan kepada kami untuk “jaga iman kalian ya”. haahaa…. pengen ketawa ketika mendengarnya, beberapa mungkin masih beranggapan jika bolang itu seperti tempat kami mengadu iman, memperjuangkan umat, dan bla bla bla. Tiba di dusun Bolang kami langsung solat asar di TPA dan bermaksud melihat kondisi di sana. Lalu dilanjutkan ke rumah yang akan kami tempati. Di sana pun kami disambut oleh perangkat desa, takmir dan bude-bude yang tengah sibuk menyediakan takjilan. Basa basi sebentar dan akhirnya mas nur pun pulang. Malamnya kami bertiga langsung merancang program ditemani oleh dua bude yang baik hati, bude ruk dan bude wasti. Dapat informasi dari bude jika “ibu-ibu di Bolang pengen ngajinya rame-rame nggak mau sendiri, soalnya kalau baca iqro sendiri malu nanti kalau salah, terus ada juga yang minta diajarin bacaan sholat saja nggak usah iqra karena udah nggak mampu ngeliat” begitu kira-kira redaksinya. Di antara program tersbut adalah ngajar TPA, pengajian ibu-ibu, khataman qur’an, dan baksos. Hari pertama operasi, sorenya kami standby di TPA, dan seharian itu pun belum ada remaja ataupun ibu-ibu yang bertandang ke rumah untuk belajar. Tapi pak takmir tidak henti menginfokan kepada masyarkat setiap habis sholat tarawih dan shubuh bahwa dikampungnya ada beberapa santri pengabdian yang siap melayani warga jika ada yang hendak belajar mengaji ataupun soal yang lain. Demi untuk menyemarakkan calon rumah tahfiz yang kami tempati pun, di sela mengajar TPA kami menginfokan kepada anak-ank bawa kakak-kakak bersedia membantu belajar adik adik TPA jika ada yang kesulitan dalam belajar (songong banget ya).

            Begitu kira-kira sekilas gambaran perjalanan kami dalam program santri pengabdian. Nah kali ini saya akan berceria tentang suasana batiniah saya, pengalaman interaksi saya, serta sedikit pengetauan saya tentang masyarakat desa.

            Jika islam itu dibangun atas dasar konstruksi lahiriah dan batiniah, maka sungguh saya melihat islam ada pada msyarakat dusun Bolang. Jika dilihat dari segi individu masyarakatnya, saya selau bertemu dengan orang-orang yang jauh dari sikap sombong, salah satu contoh sikap kerendah hatiannya pak takmir, beliau selalu bilang jika beliau tidak bisa apa-apa, selalu bilang “pengetauan agama saya sediki ustad” (pas ngobrol bareng mas nur). tapi disamping itu sebagian masyarakat meyakini jika tidak ada pak takmir, masyarakat dusun bolang belum mampu berpikir maju. Ah pak, jika yang bapak maksud adalah pengetahuan ritual keagamman mungkin kami jagonya, tapi jika substansi sosial agama sunguh kami yang harus belajar banyak dari bapak. Itupun Jika islam oleh sebgian orang dipahami sebagai kata kerja bukan kata benda. Bukankah menurut beberapa survei, jika Bali lah yang merupakan kota yang paling menerapkan esensi ajaran Islam, padahal masyaraktnya memeluk agama non islam.   Belum lagi ada bude wasti, ya ampun… saya amat berterima kasih dengan beliau karena beliau selalu menemani kami dari awal hingga akhir program ketika kami kerap menemui kesulitan, pula menbangunkan ketika sahur. saya memperhatikan betul bagaimana ketika selepas shubuh bude wasti sudah sibuk di dapur, tak pernah saya liat bude wasti istirahat siang. Benar benar tergambar padanya wanita pekerja keras.

            Walupun faktanya ketika di sana, batin saya agak sedikit terguncang. Semua program yang kami rancang, berjalan dengan lancar. Ketika hari kedua, siang hari para ibu sudah berkumpul di rumah tahfiz hendak belajar mengaji, selepas tarawih para remaja mulai berdatangan ingin pula belajar mengaji, ketika subuh pun begitu, sorenya meladeni anak-anak TPA. Jujur saya sempat merasa tidak tenang, saya agak tidak peduli dengan ruh saya yang saya lupa jika ia pun mustilah diberi asupan. Sholat malam ketetran, duha pun lewat karena bangun kesiangan gegara malamnya bergadang, tilawah ditinggalkan. sebenarnya itu tak bisa dijadikan hujjah, dasar sayanya saja yang malas-malasan. Jadi ketika saya begitu banyak meladeni orang hingga lupa meladeni diri sendiri, jiwa saya terasa angkuh, dan itu amat menggelisakan. Hingga tiba ketika saya hendak menangis karena saya dalam keadaan amat bingung menghadapi begitu padatnya program, saya takut jika program yang dijalankan hanya sebatas program, puncaknya ketika kami tengah sibuk mempersiapkan acara khataman qur’an. Saya merasa program ini terlalu dipaksakan, melihat banyak warga yang belum mampu membaca qur’an dengan lancar. Saya merasa ini amat memberatkan. Khawatir nanti tidak ada lagi yang belajar. Tapi untungnya semua itu tidak seburuk yang dibayangkan. Khataman tetap berjalan lancar dan kami bersama warga pun masih terus belajar qur’an. Dari sini saya belajar, untuk terjun dalam masyarkat, kekuatan ruh amatlah dibutuhkan. Jika tidak siap, salah-salah malah diri sendiri yang nantinya bukan mengajarkan malah menjerumuskan orang.

            Saya melihat pada diri warga Bolang semangat dalam menuntut pegetahuan. Bukankah ini yang menjadi awal perintah dari Tuhan untuk terus belajar, “iqra (bacalah)”. Memang diawal pengajian, para santri dewasa (ibu-ibu) agak malu untuk kembali mengulang bacaan iqra’ mereka. Begitu pun dengan para remaja. Kami sempat kaget, keika tengah tilawah di masjid selepas tarawih, ada salah satu pemuda yang menyodorkan iqra’ hendak mengaji, dan pada akhirnya pemuda-pemuda yang lain pun ikut pula belajar mengaji. Ah, ternyata hanya perlu selangkah keberanian untuk memperoleh pengetahuan. Saya amat merasakan ada ruh setiap kali kami (santri mengandi dan warga) berinteraksi dalam proses belajar. Hingga kita tiba saatnya program ini selesai, di tiap wajah terpancar kesedihan karena harus merelakan proses belajar terhenti. Ketika ada seorang teman yang berkata jika kami kembali akan mennemui dunia nyata, saya beranggapan bawa singgah di bolang sejatinya pun merupakan dunia nyata karena ia pun bagian dari proses belajar. Bukankah sejatinya hidup itu adalah proses pembelajaran. Selama kita menyadari bahwa kita ini selalu dalam proses belajar, kenyataan akan dunia takkan terabaikan.

            Saya selalu ingin hendak berkata kepada mereka bahwa tak perlu berekspetasi lebih dengan orang-orang yang katanya dari kota, di saat wara desa masih mempertahankan semangat kebersamaan dan toleransi beragama, di kota, orang sudah sibuk mengklaim diri yng paling benar, hingga akhirnya menghasilkan kesenjangan. Desa Bolang sudah berislam, toh islam bukan hanya soal praktek ritual keagamaan, tapi lebih dari itu pengamalan kehidupan yang bersahaja. Saya amat bergembira bisa mengenal Bolang, dusun yang mengajarkan saya pentingnya kehidupan yang berseimbang, antara diri dan kehidupan bersosial. Antara hablum minallah dan hablum minannass.

Sholat, Rukuk, dan Hewan


Menyenangkan jika selama perjalanan menyetir bisa diselingi dengan suatu obrolan atau pun sekedar nyanyian tak jelas. Apa lagi jika ditambah dengan pemandangan menawan setiap kali melewati jalan. Sebenarnya bukan bagaimana perjalanannya yang akan saya bahas di sini, tapi obrolan yang berlangsung di dalamnya. Karena akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengusik pikiran saya, sesuatu yang amat mendasar, “sholat”. Saya bertanya-tanya kenapa dalam sholat musti ada gerakan rukuk?, pertama saya memikirkannya, ini sesuatu yang amat menggelikan. Seseorang dalam pertemuannya dengan Tuhan, mustilah melewati gerakan nungging sejenak. Saya menganggapnya sebagai sebuah kelucun yang mengherankan. Karena terus-terusan terngiang diingatan eh dilalah pas nyetir bareng teman yang saya anggap paham dengan kegelisahan pikiran, langsung saja saya todong dengan pertanyaan serupa, “kenapa di sholat musti ada rukuk? Sebenarnya rukuk itu menyimbolkan apa?”.

Menurut logika beliau, rukuk merupakan simbolisme dari gerakan ketundukan, kerendah dirian, dan pula sebagai bentuk persiapan dari gerakan sholat setelahnya yaitu sujud. Tapi itu belum menghilangkan kegelisahan di pikiran saya, karena menurut saya seutuhnya solat itu bermakna ketundukan, kepasrahan, ketiadaan. Saya menganggap jawaban tersbut masih terlalu umum. Saya butuh yang lebih spesifik. Khusus. Mengena. Itu rukuk simbolisme dari apa.

Sebenarnya sebelumnya saya sudah mengantongi jawaban sendiri. Nah jadi begini menurut otak-atik otak saya. Saya awali pikiran saya ini dengan membandingkan kedua makhluk Tuhan yaitu manusia dan binatang. Apa yang menjadikan manusia berbeda dari binatang. Saya sering mendengar kalimat jika manusia merupakan hewan yang berbicara. Keduanya smaa-sama makhluk hidup, tapi salah satunya berkemampuan mengolah logika berbahasa. Tapi disamping ia mampu mengolah logika berbahasa lewat akal pikirannya, secara fisik antara manusia dan binatang juga memiliki perbedaan yang jelas. Hanya manusia yang berdiri sempurna mampu menyanggahh tubuhnya. Sedangkan pada binatang, tidak ada yang mampu berdiri sempurna. Biasanya beberapa binatang selain yang berjenis melata, seperti simpanse, kera, ataupun yang serupa tak bisa menegakkan dirinya setegap manusia.

Nah dalam pada itu, balik lagi ke rukuk. Rukuk merupakan simbolisme dari cara tegak binatang (menurut saya loh ya). Dalam rukuk, manusia diminta sadar akan posisinya ketika berhadapan dengan Tuhan. Hanya sebagai makhluk, posisinya disejajarkan dengan binatang yang mungkin sering dihina dinakannya (sejajar maksudnya menunjuk ke segi fisiknya). Dalam rukuk ada bacaan subhana robbiyal ‘adziimi wa bihamd , ada kata subana yang berati manusia disuruh mensucikan. Kenapa ada pernyataan mensucikan, pastilah karena sebulmnya ada sesuatu yang kotor. Apa itu? Ya itu, manusia. Manusia yang kotor ini dalam sholatnya itu disuruh mensucikan dirinya dengan nama Tuhannya yang maha agung. Disuruh mensucikan dengan kembali menyadarakan driinya bahwa sesuatu yang dapat diagung-agungkan itu bukan amal ibadah ataupun jabatan keduniawian, akan tetapi hanya Dia, Allah yang mencipta.

Kekotoran manusia ini ditegaskan lagi dengan gerakan setelah bangkit dari rukuk, gerakan yang amat radikal. Sujud. Dalam sujud ada kalimat subhana robbiyal ‘ala wa bihamd. Di sini puncak pengakuan kehinaan manusia, dalam posisinya yang amat rendh menyatu dengan tanah sebagai bahan yang menjadikannya ada, manusia kembali harus mengakui bahwa dirinya kotor nan rendah dengan menyadari bawa hanya Allah yang maha suci dan tinggi. Manusia benar-benar tak bisa memisahkan dirinya dari alam, ia terbentuk dari alam, dan sejatinya dengan alamlah ia belajar.

 

Puasa, Kenapa Musti Ada?


                Tak terasa sudah hari kelima puasa. Dengan rutinitas yang tak berubah. Jam empat sahur, solat, lalu balik tidur (kadang juga kebalik jadi sahur-tidur-sholat). Paginya jika tak ada jadwal yang mengharuskan untuk berkeliaran di luar, ya mentok di atas kasur. Dan sorenya buka bersama di masjid sebelah. Namun dalam rutinitas yang itu-itu saja, ditambah ketika pada pagi tadi saya dengan segala khilaf meninggalkan momen sahur yang amat berharga, jreng…. hati pun bergejolak nan bertany-tanya seraya sedikit menggurutu “asem gak sempet sahur, asih ngapain juga musti puasa”. Lah, kok bisa saya yang sudah tua ini, mantan santri pula menyumpah serapahi puasa padahal itu kewajiban dari yang Kuasa. Jadilah seharian itu hasrat untuk ber-sok masygul dengan ibadah-ibdah romadhon tak saya lakoni. Alesannya ya kecewa karna melwatkan sahur.

            Tiba pada waktu berbuka sembari mendengar penceramah bercuap-cuap tentang obral pahala ini itu, saya memperhatikan beberapa anak kecil yang ikut pula menunggu momen penuai hasrat. Melihat hal itu, dalam hati saya berkata, “kita semua baik yang tua ataupun yang muda sama sama berpuasa, terlepas dari segala pemahaman terhadap esensi nilai puasa, wujud dari pelaksanan puasa itu sendiri adalah tidak makan dan tidak minum” lalu kenapa wujudnya harus tidak makan dan tidak minum? Orang dewasa kemungkinan akan langsung menjawab bahwa esensi puasa itu sendiri sejatinya bukan sekedar makan dan minum, tapi ini dan itu (dengan segala macam dalil), tapi saya yang polos ini benar-benar tidak menganggap bahwa kegiatan makan dan minum itu terbatas pada kata “sekedar”, saya beranggapan itu sesuatu yang punya esensi juga lohh, yang punya nilai budaya pula.

            Saya pun bertanya pada beberapa teman, yang satu langsung menjawab pada substansi yang terkandung pada kegiatan puasa, yang lain menjawab sama tapi saya pancing pancing lagi dan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa upaya menahan hasrat makan dan minum dalam puasa adalah sebagai bentuk pembelajaran bagi manusia agar ikut merasakan penderitaan yang ada pada sebagian orang yang kurang berkecukupan, dalam artian sebagai suatu benuk syukur kepada Tuhan karena telah diberi nikmat berlebih. Begitu katanya. Nah, tapi kalau si orang yang katanya miskin itu yang harus kita rasakan penderitaannya pada kenyataannya malah ia (yang katanya miskin) amat menikmati hidupnya dan justru tidak mengharpakan untuk menjadi seperti orang yang berkecukupan, lah kan jadi lucu argumennya.

            Akhinya saya berkesimpulan sendiri, makan dan minum kita ketahui sebagai kebutuhan primer kita dalam aritan bahwa ia merupakan kebutuhan pragmatis manusia. Lalu kenapa Tuhan menyeru untuk berpuasa yang wujud konkritnya tahan unuk tidak makan dan minum? ketika seseorang telah memenuhi aspek pragmatis dalam hidupnya, seperti makan dan minum, sejatinya ia harus segera berpindah maqom untuk segera menemukan atau harus sudah menemukan kesejatian dari hidup dengan tidak lagi sibuk memikirkan apa yang harus ia makan hari ini. Nah, hal itu dilakukan dengan berpuasa, dengan harapan kehidupan pragmatis yang telah ia penuhi, ia tahan agar tak kelewatan, agar ia temukan apa sejatinya makna dari pemenuhan kehidupan yang pragmatis. Ia tak lagi menjadi sibuk bertanya tentang hari ini makan apa, karna jiwanya sudah pada titik menemukan “ia makan unuk memenuhi kewajiban nutrisi bagi tubuhnya” bukan hasrat lagi keinginan nafsunya.  Maka itu di sini barulah muncul pernyataan bawa sejatinya yang ditahan dalam puasa itu adalah nafsu atau hasrat yang melebihi kapasitas pragmatis dalam hidupya. Jadi inti dari ucapan ngelantur saya ini bahwa jika kehidupan pragmatis seseorang telah terpenuhi maka baginya unuk mempuasai agar segera ia temukan arti. Lalu bagaimana dengan mereka yang kehidupan pragmatisnya belum terpenuhi, saya pikir kemungkinan terjadi dua hal, hal pertama seseorang itu benar-benar menjadi seorang yang bermakna dikarnakan ia berpasrah pada apa yang terjadi padaya, kehidupannya mungkin lebih berniali karna itu sudah menjadi rutinitasnya. Hal kedua mungkin kebalikannya, saya bertolak pada hadits yang berkata bahwa kefakiran iu mendekati kekifuran. Tapi ntahlah, ini hanya sebatas otak atik pikiran saya saja.

            Terlepas dari praduga iu semua, saya meyakini bahwa setiap kewajiban yang dibebankan pada manusia oleh Tuhan sejatinya unuk membermaknai kehidupan manusia itu sendiri. Tinggal bagaimna manusia iu menyikapi kewajiban dengan tidak menjadikan beban tapi bahan koreksian. Sekian.

 Hei kamu (nunjuk diri sendiri), paham?! Kalau belum paham ya udah, nanti kita pikirin lagi.

 

Sensei “Bian”


Namanya Bian. anaknya aktif, suka lari ke sana kemari. Entah sudah berapa banyak barang yang dibuat rusak seharian ini. Geram seisi ruangan dengan tingkahnya. Para mentor dan anak-anak lain, ia pukul bila ada yang berani mencoba mendekatinya. Habis ia ramai-ramai dibully oleh teman-temannya. Wal akhir Bian pun dibiarkan. Mungkin karena merasa tak lagi  menjadi pusat  perhatian, ia kembali berulah dengan menyirami seluruh sandal penghuni kelas.

saya pun berinisiatif menghampiirnya, sok PDKT dengan Bian.

Saya:  “kak Bian, yok kita siram bunga yang kering itu aja”.

Bian dengan tampang polosnya terpaku ketika mendengar ssura saya. Saya duga ia tengah berbicara dalam hatinya “hmmm…boleh juga”.

Bian pun menyanggupi ajakan saya, tapi itu hanya sementara. Ternyata Bian lebih tertarik dengan tumpukan pasir yang berada di dekat bunga-bunga. Jadilah kami dua orang yang bermodalkan gelas ale-ale dan botol yakult bekas, sibuk  menampung air dan mengeruk pasir.

2015-12-26 11.16.37

Bian lagi eksperimen

Saya sendiri bingung sebenarnya apa yang hendak dilakukan Bian dengan tumpukan pasir itu. secara capek juga mengekori Bian bolak balik ngisi air. Tapi ya sudah lah saya manut saja. Daripada ia membasahi sandal-sandal temannya dan membajiri area di depan kelas, lebih baik membiarkan dirinya sibuk dengan tingkahnya sembari tetap terus mengawasi.

Tak banyak timbul percakapan di antara kami berdua. Saya benar-benar mengikuti intruksi darinya, sembari juga memberi masukan jika ia tiba-tiba terlihat bingung dan kesulitan. Tapi faktanya Bian lah yang lebih banyak berbagi masukan kepada saya, walaupun tampaknya sepele. Seperti contoh ketika keran yang sebelumnya kami pakai mati, tiba-tiba ia bersuara “di sini, di kamar mandi” ternyata ia bermaksud memberitahukan saya bahwa di kamar mandi juga ada keran. Lau ketika keran yang sebelumnya mati kembai menyala, ia kembali bersuara “tuh kan, kalo kerannya mati ya ditunggu, ntar juga hidup lagi” hahahha.

Oh ya…Ia juga tak segan untuk langsung mematikan keran setiap kali kami selesai menampung air.

Selagi kami bolak balik mengisi air, Bian sibuk komat kamit. Setelah saya amati, ternyata ia sibuk melafadzkan ayat kursi.

Sok nggak  tahu, saya pun bertnya “kak Bian baca apa toh?”.

“Itu ayat kursi, huwal hayyul qoyyum” katanya, sembari terus menuggui gelasnya penuh. Bertambah penasaran saja saya dengan kejutan-kejutan yang akan ia munculkan berikutnya.

Lalu saya bertnya kembali pada Bian::

  “kak Bian, ini pasirnya mau dibuat apa kok dibasahin trs?”.

Ia pun diam, saya dicuekin.

Setelah lama menuruti perintahnya siram sana siram sini, ia bersuara:

 “nah kan, jadi pantai kecilnya”.

Oalah dek, trnyata maumu ki buat pasir kyak di pantai itu toh. Halah Bian. Itu lah dari tadi kenapa ia menyuruh saya menyiram-nyiram pasir lalu ditumpahkan dan ditumpuk-tumpuk. Hmmm…ada-ada saja tingkah bocah satu ini. Sebelumnya saya sempat merasa sedih dan ingin marah ketika ada seorang mentor sambil lalu nyeletuk “nih anak perlu diruqyah ni”. Saya pun hanya mendiamkan, malas menanggapi celetukannya.

Memperhatikan kelakukan Bian, saya mendapat refleksi tentang berbagai informasi yang sebelumnya saya terima. Menurut ali bin abi thalib fase pendidikan anak terbagi menjadi 3 fase: 1. Tujuh tahun pertama perlakukan anak layaknya raja, 2. Tujuh tahun kedua perlakukan anak layaknya tawanan, 3. Tujuh tahun ketiga perlakukan anak layaknya sahabat.

Sepengetahuan saya, Bian belumlah genap berusia tujuh tahun. Jadi berikan saja ia  kesempatan untuk mengeksplor keingintahuaannya terhadap hal-hal yang ia anggap baru dengan tetap terus mengawasi dan ikut menstimulun daya imajinasi kreatifnya. Ibara raja, anak berhak memutuskan apa yang hendak ia lakukan. Sembari kita orang dewasa yang berperan sebagai menteri berhak mengawasi dan memberikan sumbangsi berupa masukan terhadap apa yang akan ia lakukan.

Fase ini pun merupakan waktu di mana anak merekam apa yang ia perhatikan. Saya jadi teringat pula dengan kata sambutan ustazah pendamping pasca penampilan dari anak-anak pada penutupan acara. Kira-kira redaksi yang beliau katakan seperti ini:

“saya tidak menyangka, tadinya saya kira anak-anak bakal malu untuk tampil di depan, lah ternyata semuanya pada ikut maju untuk membacakan hapalan surat pendek. bahkan Bian pun tak pernah saya kira ia hapal surat yang ia bacakan itu. Setahu saya dari kemarin Bian amat susah untuk diam, maunya lari-larian. Hingga kami butuh satu mentor yang benar-benar harus mendampingi Bian.”

Tuh kan, kelihatannya saja Bian tidak memperhatikan. Ternyata ia mencerna segala apa yang ia dengar, ia lihat dan ia rasakan. Ah…anak-anak itu selalu penuh dengan kejutan.

 Finally setelah lama bermain, perut pun mulai keroncongan dan ternyata makanan sudah dihidangkan. saya bujuk Bian untuk kembali ke kelas dan santap siang dgn alasan “isi bensin buat tambah energi, biar bisa main lagi”.

seperti itulah bian, ia sungguh ank yg mempesona, diminta untuk melakukan Sesuatu kebaikan ia tak sungkan. Alhamdulillah stelah lama bermain, ia tak lg mengamuk. Diajak ngobrol, dia nyaut. Diajak selfie, malah dia nagih. Dgn teman-temannya pun sudah mampu beradaptasi. Ah….Bian, terima kasih ya sudah menemani mba bemain hari ini

kecerian setelah bermain. BIan yang tengah santap siang dan berselfi ria bersama teman-temannya.

ngelantur


Jadwal shubuh di jogja itu jam empat pagi, nah terkhusus diriku shubuhannya jam lima pagi habis itu merem lagi, Lah secara tiap malam kerjanya begadang ditambah tidur dalam keadaan perut kekenyangan. Maklum nafsu makan saat ini lagi meningkat sementara tamu bulanan yang diharapkan kedatangannya belum kunjung tiba. Sungguh dilema…

Nah tadi setelah saya melepaskan rantai kenikmatan tidur sehabis shubuh itu dengan bangun jam delapan pagi, saya lihat ada seorang wanita tengah sibuk membenahkan jilbabnya. nampak sekali jika dia tak nyaman dengan apa yang akan ia kenakan. setela basa basi sebentar  dan berceletuk ngapain dia pake ganti gaya jilbaban sagala, ia pun berkomentar “ben ketok feminim sitik del”, langsung dah saya komen lagi “wah…pencitraan ki mb opi”. Hahahaha

Feminim si feminim, tapi ya gak sampai ngeribetin diri sendiri juga kali mb. Menurut saya mb opi tuh sudah feminim seutuhnya, penyayang, baik hati, peduli, walaupun kadang juga kebaikannya labil. Hehehe

Mb opi sendiri pasti sudah tahu banyak seputar wanita-wanita yang lebih memfinimnkan tampilan luarnya saja tanpa peduli dalamnya bagaimana. Pagi-pagi sibuk dandan berjam-jam nyampe lupa sarapan, beli makeup bulanan sampai nggak ada jatah buat asupan pikiran.

Itu sebagian saja, banyak juga kok wanita yang feminim luar dalam  nan menginspirasi negri. seperti ibu Gubernur jatim itu loh mb, atawa mb motivator muda cantik yang miliuner itu.

Ah saya memang tak berhak menentukan mb opi mau bergaya seperti apa, tapi setidakya mb opi berhak mendapatkan kenyaman dari apa yang jenengan kenakan dengan tidak mengabaikan komen-komen perhatian kecil adekmu ini. Hehehe